Friday, November 3, 2017

Tanya Mengetuk Bingkai Bisu

Leave a Comment

Tanya Mengetuk Bingkai Bisu


Sejurus tatap pada potret hitam putih
Ada tanya yang mengetuk bingkai bisu
Mengapa kau tak menyemai senyum?
Tatapmu kosong pada celoteh sang kumbang
Tak hirau cumbu yang kerap menyambangi kuntum bunga yang mulai mekar
Bahkan berpaling mencari sesuatu yang misteri


Kembali tanya mengetuk bingkai bisu
Apakah hatimu begitu teguh?
Hingga benteng rasa menutup rapat setiap goda yang mendekat
Sekilas tatap sekedar merespon tanya
Tak ada jawab yang bisa di dengar
Kau begitu angkuh melipat setiap rona yang membelai


Sapa misteri di balik kabut
Menggugah rasa yang telah lama tertidur
Kau sambut dengan seulas senyum
Lalu kembali bersembunyi di balik bingkai dan membisu
Sampai kapan kau bertahan?
Kau menipu rasamu
Sungguh kasihan malangnya nasibmu
Cerca mulai datang menghunjam perih
Agar kau kembali menyulam asa


Kembali hadir dengan tanya yang sama
Aneh!
Kau tak lagi diam membisu
Senyummu indah memukau tatap
Kau ikuti tarian sang bayu
Kau bermain dengan binar yang menggelora
Hingga lelah datang mengusik
Dan, kau kembali bersembunyi
Kau simpan senyummu yang indah
Kau lipat kembali setiap tarian jiwa yang ada
Kau biarkan semua berlalu
Tatapmu kembali kosong
Kembali tanya mengetuk bingkai bisu
Mengapa kau begitu?


🎈🎈🎈🎈🎈


Potret di Masa Lalu


Pagi ini kupadangi potret di masa lalu
Tatap matanya berbinar indah tiada sendu
Tak ada kepiluan disorotan mata itu
Tampak kepolosan seorang bocah yang lugu
Bersahaja mengerjap teratur bagai dentingan mengiringi lagu
Engkau begitu manja duhai ratu


Pagi terus merambat siang
Kembali kutatap potret di masa lalu yang terpajang
Engkau begitu riang
Senyummu mengembang
Langkahmu yang begitu ringan bagai burung terbang melayang
Renyah suaramu menjadi candu untuk dikenang
Tak henti bersenandung dengan riang
Ibu menanti engkau pulang
Nasi hangat telah terhidang


Waktu terus melaju perlahan
Seiring dengan dendang dedaunan yang berayun
Engkau tumbuh menjadi sosok yang gemar berteman
Dalam senda kerap datang canda cumbuan
Kadang cerca singgah sesaat dalam pendengaran
Semua kau terima dengan senyuman
Hatimu tak sedikit menyimpan kekesalan


Saat ku tatap potret di masa lalu di senja yang cantik
Engkau bagai tersenyum unik
Ternyata hatimu mulai terusik
Ada rahasia yang kau simpan dengan baik
Biar ku tebak senyummu yang penuh intriks


Hahaha.... aku tertawa bahagia saat tebakanku kau jawab dengan anggukan
Siapa gerangan yang telah menyanyikan lagu dambaan
Kau tersipu saat aku tanyakan
Kukatakan kau terlalu cepat mengiyakan
Lihat! Kau masih belum bisa mengambil keputusan
Kau labil sayang ! Jangan! Jangan! Jangan!


Dalam keheningan malam kembali ku tatap potret di masa lalu
Wajah lugu
Sorot matamu tajam
Engkau terluka gadisku
Engkau merana sayangku
Tidak!
Engkau kini tahu
Begitu banyak yang menyayangimu
Begitu banyak yang perduli padamu
Sini kembali kepelukan ibu
Jangan jauh-jauh melangkah ratu ibu
Sebelum cukup usiamu
Karena ayah ibu selalu ada untukmu
Masa depanmu cerah
Hidup ini indah
Bahagialah sayangku


💝💝💝💝💝


Sahabat jelmayatiasa pernahkan kau temukan potret di masa lalu? Wajah lugu, lucu ya... Sudah lama aku temukan potret di masa lalu. Aku pandangi dengan seksama dan munculah imajenasi yang menggoda untuk menuliskan sesuatu yang aku rasakan.

Setiap kali aku menatap potret yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda. Kemudian aku menuliskan sesuai dengan perasaan yang aku rasakan sambil menatap lekat-lekat pada potret itu. Dari masa ke masa dengan cerita yang berbeda. Semuanya di tulis sesuai dengan perasaan saat kumenatap potret di masa lalu yang berbingkai indah ada tanya dan cerita di balik bingkai yang bisu. Ada masa yang indah masa tanpa beban.

Dari masa ke masa sesuai perjalanan imajenasi liar, masa labil. Tapi, dengan orang tua yang selalu hadir untukku baik dalam suka dan duka selalu memberi kehangatan cinta yang tulus maka gadis kecil itu tak perlu berlama-lama dalam kesedihan.

Silahkan sekedar untuk di baca memang tak indah kawan karena jejak maya bukanlah pujangga apalagi penyair, jejak maya hanyalah kumpulan aksara tercecer yang dirangkum seadanya biarlah setiap kata menjadi koleksi untuk kembali di baca bahwa jejak maya pernah ada.

Salam hangat untukmu selalu pembaca yang sempat singgah di blog jelmayatiasa.blogspot.co.id. Terima kasih.



Puisi : Tanya Mengetuk Bingkai Bisu, Potret di Masa Lalu.

If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih untuk kehadirannya di blog Maya salam hangat dan persahabatan selalu