Thursday, January 5, 2017

Masihkah Aku Pemilik Puisimu

24 comments

Kasih
Rindu ini kian terpatri
Tertanam di samudra tak bertepi
Tak pernah mampu ku menepis
Terlempar pada bunga karang yang merobek perih

Meranum mendesak sanubariku
Mawar-mawar bewarna merah
Bagai rekah tersiram embun pagi
Rembulan malampun bersinar purnama sempurna
Sinis tatap menghujam malu

Mentari menyisih bertirai biru
Memberi sejuk mengurai rindu
Kasih kalaulah boleh ku sentuh padamu
Pastilah badai tak mampu menghadangku

Kasih
Kalaulah pelukku sampai padamu
Pastilah tak kulepas rengkuhmu

Bukanlah kerlip kejora yang ku tunggu
Bukan pula senja merona yang ku damba
Bukan, bukan fajar yang ingin ku sapa
Tapi rindu padamu yang tak terhingga

Rinduku seperti tanah gersang dambakan hujan
Seperti lirik dan nyanyian
Mawar pada tangkainya
Benalu kepada pohon inangnya

Kasih bolehkah aku rindu pada puisimu
Sudah lama tak kau urai aksaramu
Masihkah puisimu berkisah tentang rindu
Masihkah aku pemilik puisimu

Ruang gerakku yang terbatas
Tak kutemui liar puisimu
Yang kerap hadir mengendus mimpiku
Dan kujadikan penawar rindu yang membuncah

Masihkah aku pemilik puisimu
Menyatu indah meremas rasa
Bila gelap bagai pelita
Menerangi rabaku tentang dirimu
Hingga pagi esok ku dapati
Tolong aku menuju arahmu
Sebab rindu ini telah menguras telaga batinku
Sebab rindu ini telah memeras segala gerakku

Kasih ....
Rindu ini mengikatku
Dalam rentang waktu yang tak terjamah




If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

24 comments:

  1. Masih selalu penasaran dengan puisi2 indahmu Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hanya merangkai aksara yang tercecer
      Ok terima kasih
      selamat siang

      Delete
  2. Replies
    1. tergantung suasana saja
      lagi ingin berpuisi

      Delete
  3. Aku masih mencium aroma melatimu,
    Wangi yang merambahi tiap ruang waktu.

    Meski telah terburai dari kelopaknya, semilir angin selalu membawa kabarmu.

    Setiap detik nafas yang mengalir..,
    Aku, tetap saja tak penah berpaling darimu

    Rindu terangkum indah,
    Disetiap kisi malamku
    Sampai wajar tiba..
    Rindu ini kembali utuh untukmu.


    eittt.., ngomong2 aku kok jadi ikutan nulis puisi yah.? hehe

    ReplyDelete
  4. Tuan pujangga pengurai aksara
    Telah kau rangkai bait rindu
    Melepuhku dalam hening
    Memaknai setiap ruas birama yang kau gubah

    *hehe, silahkan mas tak ada larangan untuk berpuisi, mak plong nggeh, guyon kok mas wedi eneng sing iku ...

    ReplyDelete
  5. Yaa!! tergantung kalau masih pada Gengsi mungkin terasa bergemuruh...meski terkadang rasa sesal bisa menghadirkan yang telah pergi...dalam bisikan syahdu menyertai menjadi rindu..haahaa!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan gengsi katakan cinta ya pak, hehe .. itu fiksimu dibawa ke sini ya
      masih terbawa alur ceritanya

      Delete
  6. ya cacam..., alangke puitis nyo ye, aku sampe klepek2 jingok bait2 nyo., untung be dak sampe jedotke dahi ke dinding. men aku dak pck nian buat puisi yg romantis, kalu pantun jenaka atau seloka msh biso dikit2 lah. Payo ajari kami2 nih tante.... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aih dah paca nian mamang sikok nie, dakdo temakan dengan pujian, tulis bae apo yang pacak di tulis, biaso baelah pecak idak pernah nyingok ada tulisan yang lebih bagus bae, yg ku tulis nie idak seberapo mang 😄

      Delete
  7. Kadang bahasa puisi membuat pembaca memeras pikiran untuk mendapatkan maknanya, kalau boleh menebak puisi ini menggambarkan sang penulisnya, atau bisa jadi ini admin blog sedang di landa badai asmara hegheg maaf semoga saja tebakan ummi salah

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduh! Ummi ternyata penerawang handal nih haha ...
      salah nggk apa-apa kok, nggk di hukum
      benar juga sama aja nggk dapat hadiah 😀

      Delete
  8. sungguh puisi yang begitu bgus, kata2 bgitu indah mbak. Apalagi tentang kerinduan ituh loh, sungguh bkin terkesima

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu tahu puisi ini tentang kerinduan
      ok terims

      Delete
  9. Wah saya gagal paham mbak gak ngerti puisi soalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. gagal paham, tidak apa-apa, tidak didenda ok terima kasih

      Delete
  10. puisinya kebanyakan gunain majaz hiperbola yah ...heeer

    ReplyDelete
    Replies
    1. kadang memang majas hyperbola menjadi dominan digunakan dalam bahasa sastra khusunya puisi yah tujuannya untuk mendramatisir apa yang disampaikan dr puii tsb
      ok tks

      Delete
  11. kalau saya suka puisi yang pake majas aleogri dan hiperbola ..... hehehe ....

    ReplyDelete
  12. saya belum bisa update blog .... laptopnya rusak harus di servis dlu ke bandung....padahal jari jemari sudah gatel..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya semoga laptopnya pulih kembali ya dan bisa update blog lagi dan makin
      semangat ngeblog

      Delete
  13. Semoga jalannya masih terbuka untuk menyatukan asa dan realita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. cie ada dukungan nih
      sore pak
      semoga tak tersesat

      Delete

Terima kasih untuk kehadirannya di blog Maya salam hangat dan persahabatan selalu