Saturday, November 19, 2016

Cara Allah Menutup Aib Kita dengan Sangat Rapih

14 comments


Setiap manusia di muka bumi ini pasti pernah berbuat dosa. Apa pun dosanya. Dan hanya dengan taubatlah dosa-dosa itu akan terhapus meskipun sebesar bumi dan seisinya. Rahasianya adalah kehebatan taubat yang bersungguh-sungguh, sehingga mampu mengembalikan manusia kepada jalan kebenaran.

Allah Azza wa Jalla berfirman, "Dan barangsiapa menjumpai-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Aku, maka Aku akan menjumpainya dengan ampunan yang sepenuh bumi pula”. | HR. Muslim

Alangkah baiknya bila penyesalan disimpan sendiri, apalagi bila itu adalah aib bagi kita. Tetapi mulut ini kadang tidak bisa dijaga dan merasa beban yang sangat berat sehingga terucap kesalahan yang pernah dilakukan dan mencurahkan isi hati kepada adik, kakak, sahabat, ataupun orang terdekat lainnya.


Alhamdulillah, segala puja dan puji hanya kepada Allah, betapa sayangnya Allah pada kita, Allah tidak memperlihatkan dosa-dosa kita ke hadapan manusia penghuni bumi yang lain, aib dan kesalahan di masa lalu yang pernah dilakukan dengan kasih sayang-Nya, Allah tutup aib kita dengan sangat rapih.

Bayangkan jika dosa dzalim, dosa berbohong, dosa syirik, dosa zina, dan dosa-dosa lainnya meninggalkan bau busuk dan Allah tampakkan di hadapan manusia lainnya, alangkah hinanya dan busuknya kita dihadapan orang banyak.

“Jika seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau maka tidak seorangpun yang akan duduk denganku” | Siyaar A’laam An-Nubalaa’ 6/120

Allah telah siapkan pintu taubat bagi hamba-Nya yang benar-benar menyesal atas perbuatannya di masa lalunya agar kembali kepada fitrahnya Allah.

Ada riwayat yang menceritakan tentang betapa baiknya Allah yang telah menutup aib kita. Kejadian ini terjadi di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam.

Pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka.

Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.”

Maka berangkatlah Musa ‘alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus dan lapar.

“Tuhanku, siramlah kami dengan air hujan-Mu, taburkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami terutama bagi anak-anak kecil yang masih menyusu, hewan ternak yang memerlukan rumput dan orang-orang tua yang sudah bongkok. Sebagaimana yang kami saksikan pada saat ini, langit sangat cerah dan matahari semakin panas. Tuhanku, jika seandainya Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku sebagai Nabi-Mu, maka aku mengharapkan keberkatan Nabi yang ummi yaitu Muhammad SAW yang akan Engkau utus untuk Nabi akhir zaman “.


Tapi langit tetap cerah, tidak ada hujan bahkan tanda-tanda akan turun hujanpun tidak ada.


Kemudian Nabi Musa mengulangi doanya, “Tuhanku, siramlah kami dengan air hujan-Mu, taburkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami terutama bagi anak-anak kecil yang masih menyusu, hewan ternak yang memerlukan rumput dan orang-orang tua yang sudah bongkok. Sebagaimana yang kami saksikan pada saat ini, langit sangat cerah dan matahari semakin panas. Tuhanku, jika seandainya Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku sebagai Nabi-Mu, maka aku mengharapkan keberkatan Nabi yang ummi yaitu Muhammad SAW yang akan Engkau utus untuk Nabi akhir zaman “.


Maka Allah pun berfirman kepada Musa, "Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi bersama denganmu ini ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama empat puluh tahun. Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini! Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya.”


Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, karena engkaulah hujan tak kunjung turun!"

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri, tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia saat itu akhirnya ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksudkan.

Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbukalah rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”

Maka hatinya pun menjadi gundah gulana, air matanya pun mengalir menyesali perbuatan maksiatnya. Lelaki itu berkata lirih, “Ya Allah, aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun selama itu pula Engkau menutupi aibku, sekarang aku bertaubat kepada Mu dengan sungguh-sungguh, maka terimalah taubatku."

Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan, semakin lama semakin tebal dan akhirnya turunlah hujan.

Musa pun keheranan, “Ya Allah, Engkau telah menurunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia, mengakui maksiatnya kepada Engkau selama 40 tahun."

Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”

Musa berkata, “Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku hamba yang taat itu.”

Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!”

(Kisah ini dikutip dari buku berjudul “Fii Bathni al-Huut” oleh Syaikh DR. Muhammad Al ‘Ariifi, hal. 42)

______________

Ada pula sebuah riwayat, seorang laki-laki mendatangi khalifah Umar bin Khatab.

Orang lelaki itu menceritakan kisah hidup yang dialaminya, juga putrinya.

”Aku pernah mengubur salah seorang puteri saya hidup-hidup ketika zaman jahiliyah,” papar lelaki itu membuka kisah hidupnya.

“Namun aku sempat mengeluarkannya kembali sebelum dia meninggal dunia. Hingga puteriku dapat merasakan masa Islam dan telah memeluk agama Islam.”

Belum ada yang istimewa dari cerita laki-laki itu, khalifah Umar bin Khatab tetap mendengarkan dengan seksama. Kemudian lelaki itu melanjutkan ceritanya.

”Ketika puteriku memeluk Islam sebagai seorang Muslimah, dia terkena salah satu hukuman had karena berzina, hingga puteriku kemudian mencoba bunuh diri dengan melukai nadinya. Namun saat itu aku sempat mengetahuinya dan menyelamatkan putriku. Aku merawatnya hingga kembali sehat."


“Kemudian putriku bertaubat dengan sungguh-sungguh, hingga akhirnya putriku minta dicarikan jodoh.”

Khalifah Umar bin Khattab masih belum jelas apa yang dimaksudkan oleh lelaki ini menceritakan kisah hidupnya dan juga kisah hidup putrinya, khalifah Umar mendengarkan dengan sabar.

”Wahai Amirul Mukminin! Apakah aku harus memberitahu calon suaminya tentang keadaan puteriku pada masa lalu?”


Mendengar pertanyaan ini khalifah Umar bin Khatab menjadi jelas maksud dari kedatangan sahabatnya ini. Dengan tegas khalifah Umar bin Khatab lantas menjawab : "Apakah kamu ingin menyingkapkan apa yang telah ditutupi oleh Allah? Demi Allah, jika kamu memberitahukan tentang kisah hidup puterimu kepada seseorang yang ingin menikahinya, kami akan menjadikanmu sebagai contoh hukuman bagi seluruh penduduk negeri karena telah membuka aib seseorang. Lebih baik nikahkanlah puterimu dalam pernikahan yang suci tanpa harus menanggung malu karena aib masa lalunya.”

Ibrah dari kedua riwayat ini :

1. Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya berenang di lautan dosa masa lalunya jika ia sudah bertaubat.

2. Jangan jadikan kesalahan masa lalu sebagai penghalang bagi kita untuk ‘terlahir kembali’ menjadi manusia yang baik, jangan jadikan sebagai hambatan untuk menuju jalan kebenaran.

3. Bangkitlah dan jangan ulangi kesalahan tersebut. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang

Tulisan ini sebenarnya lebih ditujukan pada penulis sendiri, karena tak ada batasan untuk belajar dan memperbaiki diri. 
Demikianlah semoga ada manfaatnya. 
Mohon maaf lahir batin. 

Ada hadist yang menyatakan :

"Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)

Wallahuallam




If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

14 comments:

  1. Allah menutup aib kita dengan sangat rapi, tapi terkadang manusia sendiri yg membuka aibnya.

    ReplyDelete
  2. Meski begitu, makin banyak orang yang ngumbar aibnya dengan bangga.

    ReplyDelete
  3. Semoga kita semua termasuk orang2 beriman yg Aib-nya selalu di jaga Allah SWT. Amin!

    ReplyDelete
  4. Subhanallah... Sungguh rapi, Allah menutup aib seseorang. Namun begitu banyaknya orang-orang yang dengan terang-terangan mengumbar aibnya sendiri, aib keluarga, dan aib orang lain di depan umum. (Termasuk saya pribadi). Hikz...

    ReplyDelete
  5. Sungguh sangat rapi Allah menutupi aib kita, semoga dengan ampunan-Nya dosa-dosa yang kita telah mengumbar aib diri sendiri maupun aib orang lain diampuni, dan bisa menjaga serapi Seperti Allah menutupi aib hambanya.

    ReplyDelete
  6. betapa indah dan rapinya Allah menutupi aib kita..

    ya memang itulah yg sebenarnya terjadi,cuma terkadang kita sendiri yg nggak bisa menjaga dan menutupi aib kita atau aib orang lain.., padahal menutup aib itu rohmatnya besar..

    ada kisah orang masuk Surga hanya gara2 menutupi aib orang lain..

    ReplyDelete
  7. menjaga aib orang lain dan diri sendiri itu wajib

    ReplyDelete
  8. Aammin yra semoga Allah senantiasa menutup aib diri kita dan menjaga kita ya. Slm kenal mbak Maya :)

    ReplyDelete
  9. Selalu damai tatkala mengingat Allah.. Tapi dosa selalu dilakukan :(

    ReplyDelete
  10. Barakallahufiik artikelnya mba maya, mengingatkan kita untuk senantiasa menutup aib saudara kita.

    ReplyDelete
  11. nyimak postingan yang mengingatkan untuk selalu menjaga dan menguatkan keimanan.

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Mengingat aib sendiri, semoga membuat kita mau memperbaiki diri agar tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama, terimakasih mbajk maya, artikel rohaninya sangat menyejukan hati...

    ReplyDelete

Terima kasih untuk kehadirannya di blog Maya salam hangat dan persahabatan selalu