Friday, October 14, 2016

Terimakasih Bibi

Leave a Comment

Terimakasih Bibi



Kubuka kulkas. Ya ampun aku menemukan sayur-sayur yang sudah mengering, buah-buahan yang sudah mulai membusuk dan aromanya membuat aku sangat mual.

"Kapan terakhir bibi membersihkan kulkas ini?" Batinku.

Aku menutup pintu kulkas dengan cepat. Tidak tahan melihat sayur dan buah yang sudah mulai membusuk itu.

"Duuuh! Mengapa ini?" Isi kulkas itu sangat mengganggu pikiranku.

"Bi, cepat kemari!" Aku panggil pembantuku.

"Ada apa Neng?" Bi Ina menjawab panggilan ku sambil menghampiriku.

"Kapan bibi terakhir membuka lemari pendingin itu?" Kenapa sayur dan buah dibiarkan busuk dan mengering di dalam lemari pendingin itu. Bukankah bibi sudah tahu? Bahwa membiarkan makanan busuk di dalam lemari pendingin akan membuat bakteri sumber penyakit bersarang disana dan membahayakan kesehatan kita!" Ujarku dengan nada kesal.

"Maaf Neng, akan segera bibi bersihkan."

"Aku pergi dulu bi!" Sambil menenteng tas aku menuju mobil.

Tiba-tiba selera makanku jadi hilang. Bau dan pemandangan isi kulkas itu membuatku sangat jijik.

Aku duduk di kafe. Sejuk, namun entah mengapa perasaan ku tetap saja tidak enak.


Aku membayangkan tangan-tangan pemulung berebutan untuk mendapatkan buah-buah busuk itu.

Terlintas dalam benakku gerobak dan tukang sampah membawa buah-buah busuk itu ke tempat pembuangan akhir.

Sesaat aku merasa sangat bingung, aku berkeringat dingin. Aku langsung berdiri memanggil pelayan kafe untuk membayar pesananku.
Pelayan kafe itu heran melihat aku seperti itu. Lalu menatap pesanan di mejaku yang masih utuh.
Aku langsung beranjak keluar.

"Aku harus cepat pulang" Pikirku.

Sampai di rumah, bi Inah sudah pulang. Bi Inah hanya bekerja setengah hari di rumahku. Malah kadang bi Inah pulang lebih awal. Dia mengerjakan segala pekerjaan dengan cepat.
Walau pekerjaannya kadang tidak amat sempurna. Maksudku, lantai sudah disapu tapi masih ada sampah di sudut rumah. Piring sudah dicuci tapi masih bau sabun. Kerah baju yang masih kuning.
Tapi aku tidak pernah komplen, aku harus bisa memakluminya. Karena Bi Inah harus bekerja di tempat lain.

Aku mencari di mana bibi membuang makanan busuk itu. Aku khawatir bila dibuang di tong sampah akan di angkut ke tempat pembuangan akhir dan akan diperebutkan oleh para pemulung atau orang-orang yang melupakan kesehatan. Aku merasa sangat berdosa bila itu terjadi. Karena nanti membuat mereka sakit.

"Tidak boleh! Ini tidak boleh terjadi!" Pikirku berulang-ulang, sehingga ini sangat menggangguku.

Aku tersenyum senang, ternyata makanan busuk itu masih di dalam kantong plastik dengan rapih.

"Alhamdulillah." Seketika mulutku mengucapkan kalimat itu, hingga tanpa aku sadari bila aku berucap sedang dalam keadaan sendiri.

Pagi-pagi sekali Bi Inah sudah datang. Seperti biasa dia langsung kedapur, membuatkan aku sarapan pagi.

"Neng ini sarapannya, ini sudah bibi siapkan, jangan tidak dimakan lo neng! Nanti kalau neng sakit bibi juga yang repot!"

"Ia bi terima kasih."

"Kemarin neng tidak makan di rumah ya?" Bi Inah melihat masakannya yang kemarin masih utuh dengan suaranya yang sedikit menggerutu.

"Tidak selera makan bi, Bi Inah nanti makanan busuknya jangan dibuang di tong sampah ya. Sebaiknya di kubur saja."

"Ya neng, memang hari ini bibi mau menguburkan makanan busuk itu, sebenarnya kemarin sudah mau bibi kubur, tapi nggak ada cangkul, itu Bibi bawa cangkul dari rumah".

"Oh.." Hanya itu yang keluar dari mulutku. Ternyata bi Inah tahu apa yang harus dilakukan pada makanan yang sudah membusuk itu, hanya aku saja yang terlalu khawatir.

Aku jadi teringat almarhum ibuku. Bi Inah adalah teman ibuku. Ibu pernah bilang, " Bi Inah orang yang baik, dia adalah teman terbaikku".

Ibu pernah bercerita waktu itu Bi Inah menikah dengan pacarnya, anak dari kepala desa masih duduk di kelas I SMA dan berhenti sekolah. Bi Inah masa tuanya tidak bernasib baik, ia hidup miskin dan ditinggal mati suaminya. "Jadi kau sekarang yang menjaganya" itu pesan dari ibuku.
Karena pesan dari ibu itulah sampai sekarang Bi Inah masih bersamaku.

Yah, pada akhirnya aku dan Bi Inah saling menjaga, walaupun Bi Inah-lah yang paling banyak menjaga dan membantu menyelesaikan pekerjaanku.

Terimakasih Bibi

If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

0 komentar:

Post a Comment

Terima kasih untuk kehadirannya di blog Maya salam hangat dan persahabatan selalu