Sunday, October 16, 2016

Tak Biasanya

6 comments
Tak Biasanya 1
Diposting oleh Ukhty Nur Maya pada 04:28, 03-Mar-16
Di: Fiksi

 
Berkali-kali May lihat jam ponselnya. Nampak May menghela nafas panjang.


"Uh udah setengah jam aku menunggu, kok belum muncul juga ya,? tanya May pada dirinya sendiri.


"May, lagi ngapain? Udah lama ya, duh maaf ya kelamaan," Ben menyapa May, sebenar Ben tahu May sedang menunggunya.


"Sibuk banget ya? Kok telat banget sih," selidik May.


"Ia, eh nanti siang ada rapat osis, kamu pulang duluan aja ya, nggk usah tunggu aku, aku pulang sore, dah ya aku masuk lagi, udah ditunggu temen-temen mau persiapan rapat," Ben langsung berdiri meninggalkan May sendirian di taman sekolah.


May heran, kok rapat melulu sih, dua hari yang lalu Ben bilang ada rapat, hari ini rapat lagi, huh! May nampak kesal.


Sebenarnya May sudah merasakan perubahan pada diri Ben, tidak biasanya Ben begitu cuek padanya, biasanya Ben penuh perhatian bahkan Ben biasanya lebih dulu ada ditaman sekolah sekedar ngobrol ringan saat istirahat sekolah.


Dalam minggu-minggu ini Ben selalu terlambat saat keluar istirahat, walau May berusaha untuk memakluminya.


"Hay, May ayo masuk, Bu Sas udah menuju ruang kelas!" Fit memanggilku.


Aku beranjak bangun dari dudukku, langsung menuju kelas, hampir saja bersenggolan bahu dengan ibu Sas, guru Bahasa yang cantik ini.


"Selamat siang bu," May menyapa bu Sas sambil agak membungkukkan bahunya.


"Selamat siang May," Bu Guru menjawab sambil meletakkan buku di atas meja guru.


May duduk dengan lemas di bangkunya, ingatannya masih pada Ben yang sudah mulai berubah.


Dimana Ben yang dulu, yang penuh perhatian, selalu ingin pulang bersama bila sekolah usai. Mengingatkan sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. Ben kenapa kamu berubah? Apa yang salah padaku? Kamu tidak pernah begini sebelumnya.


***


Tak Biasanya 2
Diposting oleh Ukhty Nur Maya pada 05:13, 03-Mar-16
Di: Fiksi

 
"May, belum puas melamunnya? Kamu tidak menghargai kelas saya? Kalau kamu tidak niat untuk belajar bersama saya, silahkan kamu keluar!" Bu Sas menatap tajam kearah May.


"Maaf Bu, saya tidak,," May terbata.


"Baiklah, kali ini Ibu maafkan kamu!" Bu Sas melanjutkan menerangkan pelajaran.


May mehembuskan nafas lega. Penjelasan Bu Sas masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Hingga bel pelajaran usai tak satu penjelasan pun yang hinggap di otak May.


May mengambil ponselnya, May ingin agar mama menjemputnya pulang sekolah.


"Ma bisa jemput May ya?"


"Maaf May mama lagi di tempat temen mama ngelayat, ini baru aja sampe, nggak enak kalau langsung pulang, jadi gimana?"


"O, ia udah Ma, nggk apa-apa, nanti May, naik angkot atau nebeng temen aja kalau gitu" jawab May.


"Ya, hati-hati ya May."


May keluar kelas. Masih belum tau May pulang sekolah naik apa. Biasanya Ben sudah menunggu di parkiran sekolah, tapi sekarang tidak.


Melewati parkiran sekolah, May melirik sekilas motor Ben sudah tidak ada.


"Kemana Ben, bukankah tadi Ben bilang ada rapat, May tetap berbaik sangka, mungkin sedang dipakai temennya,"


May melangkah dengan gontai, "May, balik ama siapa? Nggak sama Ben? Baru aja Ben keluar," tiba-tiba Fit memanggilnya.


"Oh," hanya itu yang keluar dari mulut May.


"Bareng gue aja yuk, tapi mampir bentar ya ke Gramedia, beli buku pesanan adik gue," ajak Fit.


"Iyalah, gue mau, lagi males juga cepet sampe rumah, nyokap lagi ngelayat," May mengiyakan.


Sampai di Gramedia langsung menuju rak-rak buku pelajaran sd, cari pesenan buku adiknya Fit.


Serasa lemas May semakin menjadi, May melihat lelaki yang tak asing baginya, Ben ada di sana bersama seorang wanita, yang juga ia kenal.


Kenapa Ben tega berbuat seperti itu? Kenapa temennya sendiri begitu mesra dengan Ben, bukankah July tahu Ben adalah kekasih May.


Sungguh teganya Ben, July sahabat May. Tak dapat terbendung lagi air mata May. Fit yang di kasir tidak mengetahui hal ini.


"Fit, gue ke parkiran ya," kata May tanpa menoleh ke Fit yang sedang antri di kasir.


"Yups, entar gue nyusul," jawab Fit.


May berusaha menguasai dirinya. Ia tidak ingin Fit mengetahui semuanya. May mulai berfikir menghentikan hubungan dengan Ben. May sudah tidak ingin melanjutkannya lagi. May tidak ingin lebih terluka lagi. Dua tahun menjalin hubungan bukanlah hal yang mudah untuk melupakan semua kenangan manis dengan Ben. Tapi mana mungkin May bisa bertahan dengan perlakuan yang begitu menyakitkan.


Nyesek banget emang mendapat perlakuan seperti ini. Sahabat sudah menghianati, Ben juga sudah tidak setia. Untuk apa menyiksa diri. Yah! May harus cepat menentukan untuk segera meninggalkan Ben.


walau sedih dan kecewa, dalam hati May bersyukur, mengetahui lebih awal penyebab perubahan pada diri Ben.


***


Tak Biasanya 3
Diposting oleh Ukhty Nur Maya pada 06:58, 04-Mar-16
Di: Fiksi

 
"Sory ya jadi lama, gue heran kenapa juga kasirnya nggak ditambah di Gramedia ini, pengunjungnya kan ramai," Fit meminta maaf.


"Hem," May sekedar merespon maaf Fit dengan senyum tipis. Sebenarnya tak penting bagi May permintaan maaf Fit. Toh May juga sadar posisinya nebeng.


"May, tadi lu lihat Ben nggak? Keknya gue lihat Ben deh, tapi semoga aja gue salah lihat, soalnya cuma sekilas sih," tanya Fit sambil menggunakan helmnya.


"Nggak," jawab May singkat.


"Udah siap May, eh iya langsung pulang, atau mampir dulu nih ke rumah gue, nyokap lu kan lagi nggak ada di rumah," tanya Fit memastikan.


"Langsung anter gue pulang aja ya Fit, ada bibi kok di rumah," pinta May.


"O, ya udah kalau gitu," Fit mengiyakan.


May naik di boncengan motor Fit. Motor melaju melintasi jalan raya, sampai di jalan menuju rumah May.


Sementara May pikirannya masih sedih dan kecewa melihat Ben dan July di Gramedia. Teganya Ben dan July, pemandangan di Gramedia itu terus menerobos alam pikir May.


Motor berhenti di depan rumah May.


"Mampir yuk," ajak May pada Fit.


"Makasih May, gue langsung pulang, ini buku udah ditungguin ama adek gue, udah ya gue terus pulang, ntar kalau lu butuh temen ngobrol gue telpon ya," tawar Fit pada May.


"Nggak gitu Fit ntar gue yang hubungi lu," jawab May.


"Ok deh, gue terus ya," Fit melaju dengan si kuda besinya.


May langsung menuju ke ruang dapur, di sambut bibi Surti.


"Neng bibi siapin makan ya."


"Nggak usah bi, nanti aja," May meneguk segelas air mineral yang di taruh di atas meja makan. May lalu menuju kamarnya. May langsung merebahkan badannya di tempat tidur, menatap langit kamar. May ingin menyudahi episodenya dengan Ben. Tak ingin lagi ia mengingat-ingat kenangannya dengan Ben.


Ah sangat menyesakkan melihat cowok yang status pacar kita malah jalan sama perempuan lain, Ben tampak tertawa lepas, tawa yang akhir-akhir ini tidak pernah Ben tunjukkan pada May. Sementara July dengan begitu mesranya memeluk tangan Ben.


Nampak di pandangan mata May Ben sangat menikmati segala kemanjaan July.


Butiran salju cair meleleh di pipi May, alangkah sakitnya hati May. Yang di lihatnya dan perubahan Ben sudah cukup bagi May untuk mengakhiri semua kenangan indahnya bersama Ben. Tak ingin lagi May merajut kasih dengan Ben.


May bangun dari tempat tidur, mengambil tissue dan mengusap airmatanya.


Handponenya bergetar, bertanda sms masuk. Segera di bacanya. Huh! Operator rajin amat pikir May.


May, memutuskan mengirim sms untuk Ben, selesai di ketik namun di urungkannya untuk mengirimkannya. "Lebih baik aku ngomong langsung" pikir May.


May mengalihkan pandangan keluar jendela kamarnya. Nampak langit begitu cerah. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Kembali kenangannya bersama Ben menari-nari dalam ingatan May, semakin May ingin melupakan, semakin kuat kenangan indah itu muncul.


***



Tak Biasanya (tamat)
Diposting oleh Ukhty Nur Maya pada 14:32, 06-Mar-16
Di: Fiksi

 
"Aduh selalu aja gini," May mengeluh.


"Lu kenapa May?" Tanya Fit.


"Dismonere," jawab May sambil menekan perutnya.


"Kalau gitu lu izin pulang aja ya, yuk gue anter izin ke guru piket," kata Fit.


"Nggak ah, ntar kan ada ulangan, gue males ulangan susulan, apalagi pelajarannya bu Sas," jawab May.


"Jadi gimana nih?" Fit bingung melihat sahabatnya yang kesakitan.


"Gue perlu minum pereda nyeri, mungkin di UKS ada, tolong dong anter gue ke UKS yuk!" Pinta May sambil menekan perutnya.


Fit menuntun May menuju ruang UKS. Di sana ada guru piket dan siswa siswi yang sedang piket di UKS hari ini. May duduk di kursi. Sementara Fit meminta obat pereda nyeri pada petugas dan menunjukkan pada May, yang mana yang biasa ia konsumsi. Setelah minum obat 15 menit kemudian. May mengajak Fit ke ruang kelas lagi. Waktu itu jam istirahat baru saja dimulai. Mereka memilih tetap di ruangan.


"Loh! Kok masih di ruangan, lupa peraturan ya, kalau jam istirahat tidak ada yang boleh berada di ruang kelas, kecuali petugas piket!" Bob memperingatkan.


"Apaan sih Bob, May lagi sakit tuh! Gue lagi nememin nih, bawel amat sih!" Jawab Fit tegas.


"Kalau sakit kok sekolah, gue anter pulang ya, atau gue panggilin Ben, biar dianter pulang aja, mending istirahat di rumah," lanjut Bob.


Fit melotot ke Bob. Fit kesal dengan ulah Bob.


"Udah sih Bob! Sana lu, ini urusan perempuan, biar gue yang jaga ini kelas!" Bentak Fit.


May diam menahan sakitnya. Kalau bukan karena ada ulangan dan mau bicara dengan Ben, hari ini lebih baik ia izin tidak masuk sekolah.


Istirahat usai, Bu Guru Sas masuk kelas, "hari ini kita ulangan harian, saya mau semua buku di taruh di dalam tas, tidah satu bukupun kecuali kertas ulangan yang saya bagikan, waktu ulangan 30 menit, sisa 15 menit untuk membahas soal ulangan!" Bu Sas memperingatkan.


Kelas hening, semua konsentrasi pada soal ulangan. Waktu berjalan sangat cepat, waktu ulangan selesai. Selesai tidak selesai harus dikumpul. Lanjut membahas soal.


setelah dilanjutkan dua mata pelajaran pun usai, tiba istirahat kedua. May ingin kesempatan ini di gunakan untuk bicara pada Ben.


"May masih sakit nggk?" Tiba-tiba Bob sudah berdiri disamping May.


"Udah mendingan, lu lihat Ben nggak? Gue ada perlu," tanya May.


"Lah lu kan pacarnya kok tanya Gue sih," jawab Bob. "Ntar gue panggilin, paling dia masih dikelas," lanjut Bob.


"Iya deh, tolong ya, Gue tunggu di taman" jawab May.


"Mau kemana May? Udah nggak sakit? Gue temenin ya," Fit menawarkan diri.


"Nggak usah deh Fit, udah agak mendingan kok, Gue mau ke taman, ada perlu ama Ben," jawab May.


Namun tetap saja mengikuti May dari belakang, bagaimanapun Fit tidak tega membiarkan sahabatnya yang sedang sakit ini sendiri, mereka adalah sahabat sejak SMP.


May menuju taman, keputusan udah sangat bulat, tidak ingin melanjutkan hubungan dengan Ben. May sudah sangat sakit hati dan kecewa. Baginya berpisah dengan Ben sudah tak bisa di tunda lagi.


Tak lama datang Ben menghampiri May di taman. Ben duduk di samping May.


"Gue tinggal ya May." Fit meninggalkan May berdua dengan Ben.


"Ben, mulai hari ini kita jalan sendiri-sendiri, aku udah nggak kuat lihat kedekatan kamu ama July" May memulai pembicaraan.


"May, kamu ngomong apa sih! Udah deh nggak usah mengada-ada, biasa ajalah," Ben menanggapi.


"Nggk bisa gitu Ben, aku lihat sendiri kamu makin deket ama July, dia temen aku, biar hubungan ini udah lama aku lebih baik mundur."


Rasa sakit dihati May membludak lewat setiap tetesan air mata May yang mengalir. May tidak ingin ada July di antara hubungan ini. Kenapa Ben tidak mau melepaskannya.


"Kamu maunya apa sih Ben? Aku nggak melarang kamu jadian ama July terusin aja, mulai sekarang kita temen biasa aja," May bingung dan sedih.


"Aku nggak ada hubungan apa-apa ama July, aku nggak mau pisah ama kamu, nanti kita pulang bareng, please," suara Ben memohon.


Ben pergi meninggalkan May sendiri yang masih bingung dan sedih dengan sikap Ben.


"Nih tissue," Bob duduk di samping May.


"Terimakasih Bob," May mengusap air matanya. May berusaha menahan tangisnya.


"Udah nangis aja dulu sampai lega," Bob mengambil selembar tissue mengusap keringatnya.


"Gimana rasanya cinta mendua Bob?" Tanya May seadanya.


"Yang pasti sakit banget, melihat orang yang disayang menangis," jawab Bob.


"Kenapa sih Bob, lu baik banget, padahal gue udah nyakitin perasaan lu Bob," sambil air mata yang terus berlinang.


"Gue udah cukup bahagia ada disamping Lu, dan melihat lu tersenyum, udah ya nangisnya," sambil berdiri.


Bob menuju ruang basket, di sana ada Ben nampak sedang memainkan keypad HP-nya, Ben sangat menyesali perbuatannya yang telah menyakiti May. Ternyata Ben tidak bisa benar-benar meninggalkan May. Tidak bisa menerima keputusan May. Ben bingung kenapa dia bisa begitu tega pada May padahal Ia masih sangat menyayangi May.


"Lu brengsek, sudah membuat May sedih", sebuah bogeman dari Bob mendarat di pipi kanan Ben.


"Hey! Gue sahabat lu," sambil membalas melayangkan tinjunya ke pipi Bob.


"Gue paling nggak suka lu bikin May sedih!" Bob mengayunkan tangannya tapi dengan sigap ditangkap Ben.


"Lu senengkan, kalau gue pisahan ama May," sambil tetap memegang lengan Bob.


"Gue emang sayang sama May, dan lu tau persiskan kalau gue nggak pernah berpikir untuk merebutnya dari elu Ben," Bob menendang betis Ben.


Secepatnya Bob duduk di perut Ben yang terjatuh. Tangan Bob sudah siap melayang ke pipi Ben, tapi segera diurungkannya.


"Kenapa nggak jadi! Ayo teruskan, bunuh gue, gue emang pantes dapat perlakuan ini!" Teriak Ben.


"Sorry!" Bob berguling di samping Ben.


Akhirnya mereka terdiam, menikmati rasa sakitnya masing-masing.


"Wueh! Tonjokan maut, babak belur nih gue, bilang apa ntar gue ama bokap?" Ben menggerutu.


Bob juga sama lebamnya.


"Ih konyol banget nih!" Bob mengusap-usap pipinya.


"Ya nih! Harusnya nggak usah sampe segininya!" Balas Ben.


Mereka saling tersenyum walau tidak menampakkan senyum pada lawannya.


"Emang kenapa sih? Lu tega amat ama May, kalau Lu udah nggak sayang ama May jangan Lu sakitin gitu, Gue nggak terima," selidik Bob.


"Nggak ada yang salah kok sama May, sebenernya gue masih sayang banget kok, entah kenapa belakangan ini gue bosan dengan segala perhatian May ke gue," jawab Ben.


"Gue mau lihat sejauh mana gue kuat tanpa dia, tapi sekarang gue yakin gue nggak bakalan ngelepasin May, May terlalu istimewa untuk di sia-siain. Nggak bakalan gue nyakitin May lagi. Sedangkan si July cuma sekedar pelarian aja, masa iya sih udah jelas banget kalau gue pacaran ama May, kok dia tega nyakitin temen sendiri, sekilas aja udah bisa di tebak perempuan seperti apa si July," lanjut Ben.


"Kalau gitu mulai hari ini gue nggak mau lihat May nangis gara-gara lu, kalau sampai terulang lagi May milik Gue," tantang Bob.


"Eh, gue emang udah tahu kalau elu emang naksir ama May," tanggap Ben sinis.


"Heh! Gue ulangi ya, gue bukan tipe perebut pacar temen, jadi amanlah!," timpal Bob tegas.


Mereka berangkulan keluar dari ruang basket ball. Mereka sebenarnya sahabat. Bob emang suka sama May, tapi May lebih memilih Ben. Cinta memang aneh dua sahabat baik menyukai seorang May. Tapi Bob menerima keputusan May, Bob sadar kalau cinta tak mungkin dipaksakan. Bob sudah cukup merasa bahagia karena Ben adalah sahabatnya yang lebih berhak mendapatkan cinta May.


Nampak May yang sedang duduk di ruang kelas di temani Fit. Sementara siswa - siswi yang lain sibuk masing-masing, begitulah bila guru terlambat masuk kelas.


Walau Fit melihat gelagat Ben yang mulai berubah, tapi Fit tidak mau terlalu banyak tanya tentang hubungan mereka.


Fit dalam posisi serba salah, dilain pihak Fit menyukai Bob, tapi Bob tidak pernah menunjukkan rasa yang lain selain hanya sekedar teman.


Fit juga tahu kalau Bob menyukai May, jadi Fit berusaha mengubur dalam-dalam perasaannya terhadap Bob. Fit tidak pernah berfikir mengorbankan persahabatnnya dengan May hanya karena seorang Bob. Yang terpenting bagi Fit adalah bagaimana caranya agar tetap bisa berteman baik dengan keduanya. Karena persahabatan sangat berharga bagi Fit.


"Hey! Kalian kenapa ? Berantakan gitu, kenapa muka pada bengeb-bengeb?, bukannya kalian tadi di ruang basket?" Fit membrondong pertanyaan pada Ben dan Bob.


"Udahlah yuk anter gue ke ruang UKS!" Ajak Bob pada Fit.


"Oke, Lu Ben?" Tanya Fit pada Ben.


"Nggak usahlah! Entar juga sembuh sendiri," jawab Ben.


"May bagi tissue dong!" Kata Ben sambil meraih tissue pack di pangkuan May. Dan langsung duduk di samping May.


"Kalian berkelahi ya?" Tanya May sambil ikut mengusap lebam di pipi Ben dengan tissue.


"May maafin ya, kelakuan aku selama beberapa hari ini yang sudah nyakitin perasaan kamu, tulus dari hati tolong di maafin, aku janji itu yang pertama dan yang terakhir. Aku sadar nggak bisa pisah dari kamu May, aku kacau banget beberapa hari ini" pinta Ben.


"Tapi Ben, July itu temen aku, kalau emang suka ama dia silahkan teruskan, aku lebih baik mundur!," walau sebenarnya hati May telah luluh dengan permohonan maaf Ben. May tetap mengajukan kata-kata itu.


"Aku nggak ada hubungan apa-apa ama July, dia aja yang berlebihan menanggapi ku, coba aja kamu tanya ke July apa aku pernah menyatakan cinta atau suka ke dia," jelas Ben.


"Tapi cara kamu itu Ben, kamu memberi respon kalau kamu suka ama dia, kamu begitu luwes bercanda, kamu membiarkan July bergelayut di tangan kamu, apa itu namanya?" May minta penjelasan.


"Serius May, itu kesalahan aku, aku mohon maaf," Ben memegang tangan May.


"Ben!" Teriak July tiba-tiba, sudah berdiri di hadapan May dan Ben.


"Apaan sih! Udahlah jangan ganggu gua lagi July!" Jawab Ben pada July.


Ben masih memegang tangan May, sambil berdiri dan menarik lembut agar May berdiri di sampingnya.


Terlihat kedua kekasih itu sudah bisa berdamai. Mereka berjalan keluar kelas, meninggalkan July menuju ruang UKS menyusul Bob dan Fit.



Tamat
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

6 comments:

  1. Saya melihat ada korban PHP di sini. July mungkin perlu mengurut dadanya.

    ReplyDelete
  2. Saya melihat ada korban PHP di sini. July mungkin perlu mengurut dadanya.

    ReplyDelete
  3. July udah serasa-rasa padahal cuma kelinci percobaan. Sakitnya

    ReplyDelete
  4. kalau niat mencintai kenapa harus menyakiti perasaan orang yg di cintai.

    Mending ngak usah ngucapin cinta dan sejenisnya dari pada cuma php.., karna itu akan menyakiti hati orang lain.

    Cinta itu memberi kebahagian, kedamaian saling menyanyangi dan melindungi., bukannya saling menyakiti.

    ReplyDelete
  5. Akhirnya ben dan maya bisa berdamai dan bersatu kembali..
    Akhir yang bahagia..

    Salut sama fit, yang lebih memilih persahabatan ketimbang mementingkan perasaan pribadi

    ReplyDelete
  6. Abis tonjok2an Bob & Ben romantis bgt ya pake pelukan segala, hehe

    ReplyDelete

Terima kasih untuk kehadirannya di blog Maya salam hangat dan persahabatan selalu