Saturday, October 15, 2016

Sanggupkah Aku

4 comments
"Ayo Aisyah, kita siap-siap mumpung masih pagi," kulihat putri kecilku yang masih asyik bermain bonekanya.


"Kita mau kemana Mi," Aisyah menanggapi ajakanku, tapi tangannya masih mengelus-elus boneka kesayangannya.


"Aisyah lupa ya? Tadi malam Umi ajak Aisyah kemana?" Ku hampiri malaikat kecilku. Tampak bola matanya yang bening menatapku, sesaat mata itu berkedip-kedip hingga bulu matanya yang lentik itu terlihat menari dalam tatapan mataku.



"O, ia Mi Aisyah ingat, baiklah Umiku yang cantik, bisa tunggu aku bersiap-siap?" kulihat Aisyah menekan jidatnya yang sedikit nong-nong dengan helai-helai anak rambut yang menghias bagian tepi keningnya.



"Hem, Aisyah yang cantik," aku tersenyum mendengar kata-katanya. Gaya gadis mungilku ini memang selalu nengundang senyumku.


Sesaat persiapanpun selesai kami segera berangkat.



Awan nampak cerah tak sedikitpun awan hitam terlihat. Sejuknya hawa pagi memberi semangat dan keceriaan kami saat itu. Aisyah bertanya tentang apa saja yang menarik perhatiannya di jalan. Putriku ini memang sangat ceria dan selalu saja rasa ingin tahunya tak pernah bisa ia tahan. Kadang kala aku kewalahan menjawab pertanyaan yang dia ajukan.


Sampailah kami di pemakaman. Nampak pemakaman yang tersusun rapi dan terawat kebersihannya.


Kaki kecil Aisyah melangkah dengan sangat hati-hati mengkuti langkahku. Baju gamisnya melambai lembut tertiup angin. Mulutnya pun tak henti-hentinya bertanya.


"Assallamu'allaikum ya ahlikubur," sengaja suaraku agak ku keraskan agar Aisyah mendengar dan mengikuti kata-kataku.


"Umi bicara apa? Aisyah tidak mengerti?"


"Sayang Umi, Aisyah dengarkan ya, Umi baru saja mengucapkan salam kepada penghuni di sini, Aisyah ikuti Umi ya."


"Iya Umi, Aisyah mengerti."

Aku dan Aisyah memasuki pemakaman umum. Setelah melewati beberapa nisan kami berhenti di nisan yang kami tuju.


Aku duduk di samping nisan, Aisyah mengikuti gerak-gerikku. Ku singkirkan beberapa helai daun yang betengger di makam itu.



Aisyah mengeja nama yang tertulis di nisan itu "Achmad bin Abdulah. Lahir 10 - 10 - 1949. Wafat 11 - 9 - 2000."



"Aisyah, ini makam kakek Aisyah, kakek meninggal saat berusia 51 tahun, yuk kita berdoa untuk kakek," aku mencoba menjelaskan padanya sebelum ia bertanya.



Aisyah menatap wajahku menunjukan bahwa ia mengerti maksudku. Ku lihat Aisyah mengangkat kedua tangannya menirukan posisi tanganku yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan matanya seperti yang aku lakukan. Aisyah mendengarkan doa - doa yang aku ucapkan dan meng-aamiinkannya.


"Umi, kakek meninggal waktu umur 51 tahun ya Mi."



"Iya," jawabku singkat.



"Jadi kakek sudah meninggal berapa tahun ya Mi, ?" Tanya Aisyah.



"Jadi, Kakek meninggal sudah 16 tahun Aisyah ..."



Kulihat ia menggerakkan jari-jarinya bergaya menghitung.


"O, Kakek sudah lama ya di dalam kubur, sudah 16 tahun."


Ku lihat Aisyah memandangi sekeliling pemakaman, "banyak kuburan ya Mi di sini, yang ini mungkin lebih lama lagi ya Mi?" Lanjutnya lagi.



"Ho, kalau yang itu sudah lebih lama lagi Aisyah," ku jelaskan sekenanya tanpa melihat tulisan di nisan.



Aku berdiri. Aisyah juga ikut berdiri. Ia genggam tanganku. Kupandangi wajahnya yang sedang menatapku, "kenapa nak?"



"Umi, semalam Umi bilang, kalau kita sudah meninggal, kita akan di kubur. Kita banyak dosa dan kita akan disiksa di alam kubur dan di neraka," ia mengulangi apa yang aku katakan semalam. "Iya gitu kan Mi?"



"Iya, memang Umi bilang gitu, terus kenapa?"



"Itu loh Mi, kalau kakek banyak dosanya, berarti kakek sudah disiksa selama 16 tahun kan Mi di alam kubur? Nah, kalau kakek banyak pahalanya, berarti sudah 16 tahun kakek senang di alam kubur, benar nggak Mi,?" Terlihat mata Aisyah berbinar karena bisa memahami apa yang aku katakan semalam.



Aku tersentak, namun aku tetap mengukir senyum, aku sangat cemas, aku gelisah, aku sedih, aku takut segala pemikiranku kearah sesuatu yang amat menakutkan.



"Aisyah pintar ya," ku tanggapi kata-katanya dengan kegelisahan yang aku sembunyikan.



Matahari mulai tinggi, sinarnya sudah semakin garang, aku ajak Aisyah untuk pulang.



"Pulang yuk, sebelum zuhur kita harus sudah sampai di rumah."



Sampai di rumah. Aku dan Aisyah mencuci tangan, bebersih-bersih karena sebentar lagi waktu zuhur akan tiba.



Kami sholat zuhur berjamaah. Selesai shalat zuhur, ingatanku kembali ke apa yang dikatakan Aisyah di pemakaman tadi.



Masih di atas sajadah, aku terus memikirkan apa yang dikatakan Aisyah. 16 tahun hingga sekarang, lalu kalau kiamat datang 100 tahun lagi, ya Allah, 116 tahun disiksa ataukah bahagia di alam kubur. Air mataku mengalir, kalau aku meninggal, dosaku sangat banyak. Lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti aku akan disiksa selama 1000 tahun?



"Astaghfirullahal,azhiim ...."



"Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'un ...."



"Ya Allah ampuni aku."



Air mataku semakin banyak mengalir, apakah aku sanggup menjalani siksa selama itu?



Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi?



Atau kalau 3000 tahun lagi? Selama itu aku akan disiksa di alam kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi? Tahankah?



Padahal panas matahari menyengat saja aku sudah tak tahan.



Ya Allah ya robb, aku semakin menunduk, tanganku terangkat, keatas, air mataku mengalir semakin deras membanjiri pipi.



"Allahumma as aluka khusnul khootimah," kuulang-ulang membaca DOA itu.


"Umi kok nangis?" Suara Aisyah mengagetkanku.



"Terimakasih ya Nak," sambil kupeluk putriku. Aisyah yang tidak mengerti mengapa aku berterimakasih padanya, membalas pelukanku.



Dalam hati aku sungguh bersyukur ya Allah anakku telah menyadarkan aku dari arti sebuah kehidupan. Dan apa yang akan datang di depan nantinya.



"Aisyah kita lanjutkan doa kita ya, Yaa Allah, letakkanlah dunia ditangan kami, jangan Kau letakkan dihati kami, robbana atina fidunn ya khasanah wa fil akhirrati khasanah wa qina azabannar. "



"Aamiin," Aisyah mengaminkan.


Aisyah melepas mukenanya dan pindah duduk di pangkuanku. Mungkin ia tahu yang aku rasakan ia merangkulku dengan erat. Mencium pipiku. Mengusap air mataku. Ada rasa haru mendapat perlakuan seperti ini. Kami saling berpelukan.




If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

4 comments:

  1. Cerita yang membuat terharu, dan menginspiransi untuk selalu berbuat baik. Itu hikmah yang saya ambil dari cerita diatas.

    Semangat menulis.

    ReplyDelete
  2. ahh.. saya merasa banyak sekali dosanya mbak...
    perasaan kurang bersyukur setelah diberikan nikmat melimpah dari Allah...

    syukron mengingatkan...

    ReplyDelete
  3. Cerita yang menarik, mengharuhkan. Teruslah menulis Ukhty

    ReplyDelete
  4. banyak kaidah-kaidah yang bermanfaat dalam cerita ini.. :P

    beri senyum buat yang sudah mau berbagi cerita ini..

    ReplyDelete

Terima kasih untuk kehadirannya di blog Maya salam hangat dan persahabatan selalu