Friday, October 14, 2016

Ciuman Pertama

4 comments
Ciuman Pertama
First Kiss


Matahari sedikit meredupkan sinarnya. Sang bayu bertiup perlahan, namun mampu menggugurkan dedaunan yang mulai menguning di taman sekolah, warnanya selaras dengan semburat jingga yang tampak tercetak samar di kanvas langit.

Rey menapakkan kakinya di taman sekolah yang mulai ditinggalkan penghuni sekolah sore itu. Perlahan rintik hujan mulai berjatuhan menyiram bumi dengan tenang bahkan tak menimbulkan suara denting pun di atap gedung sekolah yang berbaris dan bertingkat itu.

Ah! Sore ini terlalu sendu untuk selera dari seorang Rey. Tapi bukan tak mungkin akan menjadi sangat sempurna untuk beberapa hal yang akan terjadi kemudian.

Rey baru saja menyelesaikan hukuman dari pak Devano hari ini. Rey harus lari berkeliling lapangan sekolah hingga sepuluh putaran, Rey telah melakukan kesalahan, kedapatan menghisap nikotin di area sekolah.

Rey masih duduk menantang udara dingin yang mulai menyergap tubuhnya. Rey tak ingin segera beranjak pulang meninggalkan gedung putih bertingkat itu. Rey duduk di bawah pohon masih di area taman sekolah. Membiarkan kemeja yanh dia gunakan lembab oleh titik air.

"Hai! Masih betah di sini?" Weny datang tiba-tiba mengagetkannya dari arah belakang.

"Aku yakin kau pasti datang!"
Rey bukan menjawab pertanyaan Weny, tapi mengatakan mengapa dia masih berada di taman sekolah.

"Ya, karena aku ingin bicara!"

"Bicara? Tentang apa?"
Rey tidak memalingkan wajahnya pada Weny, Rey seakan sedang bicara pada angin yang bertiup menggugurkan daun-daun yang menguning.

"Kau sedang bicara padaku?"

"Hei! Apa disini ada orang lain selain wanita yang sudah dulu menyapaku barusan?"

"Kau tidak suka aku disini Rey?"

"Aku sengaja menunggumu disini dan aku yakin engkau pasti datang!"

"Ya, karena kita harus bicara tentang ...." Weny mengambil syal di tasnya dan mengalungkannya pada Rey.

"Katakan tentang apa Wen?"

"Tentang tamparan!" Weny merapihkan lengan switernya.

"Haha ...., ya kau menamparku, sekarang masih sakit nih!" Rey menunjukkan pipinya.

"Sakit? Ternyata tamparanku cukup bertenaga."

"Ya, karena kau menampar dengan penuh amarah dan kebencian."

"Begitukah?"

"Ya, aku melihat kemarahan yang sangat dari sorot matamu."

Rinai hujan menghilang tapi hawa dingin masih tetatp hadir. Rey menghisap nikotinnya hingga pipinya sedikit terlihat cekung kedalam.

"Kau! Sudah gila ya! Ini di lokasi yang telah membuatmu mendapat hukuman hari ini, karena benda itu, dan kau mengulanginya!" Weny meninggikan suaranya tapi Rey malah tersenyum lucu.

"Kau mungkin berpikir, aku juga akan mengulangi, agar aku mendapat tamparan lagi darimu." Rey menjawab dengan santai.

"Rey kau juga harus tahu aku tidak suka lelaki yang senang mengisap nikotin!" Suara Weny masih dalam nada tinggi.

"Ok, aku tahu, kau memang tidak suka denganku dari awal, diperkuat pula saat telapak tanganmu mendarat di wajahku kemarin, aku semakin yakin rasa tidak sukamu padaku sebesar rasa sukaku padamu, betul begitu Wen?"
Wajah Rey kini berpaling menatap Weny.

"Kau tiba-tiba menciumku!"

"Iya, kau menamparku!"

"Aku menamparmu karena aku kaget."

Rey dan Weny saling memandang. Setahu Rey, Weny akan terus berargumen dengan lantangnya. Tapi mengapa kali ini tidak? Rey ingin memanfaatkan keadaan ini. Weny tampak menyerah dan menyimpan argumennya.

"Jadi apa yang kau inginkan dariku?" Rey ingin memastikan keadaan ini.

"Terserah Rey, aku malas bila harus menjelaskannya berulang-ulang." Weny seakan menyerah.

Rey adalah pacar pertamanya sedang kan ia sendiri mungkin adalah pacar Rey yang keseratusnya. Weny bingung menjelaskan semuanya? Weny termasuk gadis pemalu sampai seragam putih abu segera berakhir Weny baru bisa mengenal dan menerima cinta pertamanya. Weny malu bahwa itu adalah ciuman pertama
baginya.

Rey telah mencuri first kissnya dengan tiba-tiba. Weny terlalu kaget sehingga menampar Rey sebagai  respon yang ia berikan.

Meski Rey telah berulang kali jatuh cinta, tapi Weny gadis yang bebeda. Rey sangat menyesal telah melakukannya. Rey tidak ingin Weny meninggalkannya.

"Wen, beri tahu aku bagaimana caranya agar aku bisa menebus kesalahanku?"

"Entahlah aku tidak tahu."

"Begitukah? Mungkin nikotin ini akan menggantikan kedudukanmu Wen." Rey memulai aktingnya.

"Apa? Ini sungguh terlalu, benda mati itu telah menjadi candu dan menggantikan kedudukanku," batin Weny bicara tapi dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Apa yang kau katakan?! Aku tidak bisa mendengar dengan jelas!"
Weny menarik syal yang menggantung di leher Rey, hingga wajah mereka sangat dekat. Weny tiba-tiba seakan berubah agresif.

Dalam situasi tak terduga ini, Rey secara reflek mencium bibir Weny. Rey tahu ini berarti mengulangi kesalahannya. Rey sangat kacau tidak bisa mengontrol keadaan yang mendesak perasaannya, bahkan Rey menduga dan merasa Weny menantangnya untuk melakukannya.

"Maaf, aku menyesal, mungkin kali ini kesalahanku benar-benar tak terampuni." Rey menggenggam  tangan Weny yang sedang mencengkram syal yang dia gunakan. "Sekarang tamparlah wajahku sepuasmu."
Rey melepaskan genggaman tangannya pada tangan Weny.

"Rey, I hate the taste of nicotine from your lips."

"Jadi kau bukan tak suka padaku kan?"

Weny menganggukkan kepalanya sambil tertunduk malu. Weny tak menyadari tindakannya barusan malah mengundang Rey mengulanginya.

Rey sebenarnya bukan perokok, dia sengaja membuat kesalahan untuk mencari perhatian Weny. Rey hanya berpura-pura menikmati nikotin itu. Awalnya Rey tidak begitu yakin dengan caranya ini.

Rey tidak menyesal harus menjalani hukuman dari pak Devano, bahkan Rey akan berterimakasih pada pak Devano yang sudah memuluskan usahanya ini.

Langit mulai gelap Rey meraih tangan Weny. Tampak kedua sejoli itu bergandengan tangan berjalan menjauhi gedung putih yang makin senyap.


*******








If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

4 comments:

  1. Cerita di atas lanjutannya di blog sebelah, apa dipindahin ke sini nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. pindahan bos, terimaksih sudah menyempatkan datang

      Delete
  2. komen ah.., di ciuman kaget..,, ciuman pertama., haha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, biasa baru pertama kali jadi kaget

      makasih ya

      Delete

Terima kasih untuk kehadirannya di blog Maya salam hangat dan persahabatan selalu