Saturday, October 15, 2016

Aku Telah Kehilangan

5 comments




Aku bergegas menuju rumah sakit setelah mengantarkan malaikat kecilku yang ada kegiatan di sekolahnya. Meski tidak terlalu siang aku tetap merasa bersalah karena harus darang terlambat lagi hari ini.


Terbayang di pelupuk mata ini lelaki yang sangat aku sayangi terbujur kesepian di ruang serba putih yang hanya ditemani tabung oksigen dan selang infus dengan jarum yang tertancap dipergelangan tangannya.


Lelaki itu adalah ayahku, lelaki yang sangat kami sayangi dan hormati, tapi aku tidak bisa mempersembahkan banyak waktu untuk selalu ada disampingnya walau sekedar menemaninya.


"Maafkan Maya ayah ...." Bisik hatiku.


Kulihat dua orang perawat dan dokter baru saja keluar dari ruangan dimana ayah berbaring. Aku mempercepat langkahku untuk menanyakan keadaan ayah pada mereka.


"Maaf dokter, bagaimana keadaan pak Darmawan? Ehm, ini saya putrinya."


"Oh, ya nyonya Bari untuk hasil pemeriksaan pagi ini pak Darmawan sudah kelihatan lebih baik dari hasil pemeriksaan  yang sudah-sudah."


"Terima kasih dok."


"Nanti kita cek lagi ya, saya periksa pasien yang lain dulu."


Tok! Tok! Tok!


"Ayah ...." Ku lihat ayahku membuka matanya, dia menatapku agak lama. Kuperhatikan matanya yang sayu.


"Alhamdulillah, akhirnya kau datang juga," ayahku seakan mengeja kata-kata dengan pelan.


"Iya ayah ..., maaf aku tadi mengantar Aisyah ke sekolahnya dulu, setiap hari minggu Aisyah mengikuti latihan drumband.


"Aisyah cucuku, persis seperti kau dulu, lincah penuh semangat, ayah ingat dulu ibumu melarang untuk tidak ikut latihan drama untuk pentas di sekolah ..., kau nangis terus memaksa untuk ikut," kulihat ada senyum tipis di bibir ayah.


"Iya, tidak apa-apa, kau tidak usah sedih, ayah tidak apa-apa," lanjutnya lagi, tapi matanya kembali terpejam.
Aku duduk perlahan didekat kaki ayah. Pelan-pelan ku pijat kaki ayah. Kulihat ayah mencoba membuka matanya lagi. Ayah menatapku.


"Maya...," ayah memanggilku dengan suaranya yang hampir tak terdengar olehku.


"Bagaimana keadaan ayah? Apa yang ayah rasakan ? Ayah pasti sembuh." Aku berusaha menghiburnya sambil masih terus memijat kakinya.


"Bari mana, dia tidak kesini?"


"Maafkan Bari ayah ..., dia tidak bisa kesini ..., kemarin dia berangkat ke Solo, ada urusan pekerjaannya ..., dia sibuk ayah." Jawabku terbata-bata.


Ayah kembali tersenyum. Kali ini aku merasa itu adalah senyum kesedihan, kepahitan seorang ayah. Aku merasa tersindir sendiri. Bagai manapun ayahku merasakan yang aku rasakan. Bari memang sudah lama tidak bertemu ayah. Dengan segala alasan Bari tidak pernah sempat untuk menengok ayah. Akupun sudah pasrah, tidak ingin berharap banyak untuk hubungan ini. Aku hanya fokus pada putriku satu - satunya Aisyah.


Cinta Ayah ke ibu sungguh luar biasa. Cinta ayah ke ibu tak lekang oleh waktu. Ayah tetap setia pada ibu. Walau ibu telah lama tiada ayah tidak pernah mencari pengganti ibu.


Aku anak perempuan ayah satu-satunya. Aku lama bersama ayah semenjak ibu meninggal. Ayah selalu bercerita banyak tentang ibu. Ayah menempatkan almarhum ibu dalam kehidupannya dengan penuh cinta.


Ayah juga sangat sayang pada kami, kebutuhanku dan kebutuhan Aisyah putriku tak luput dari perhatian ayah.


Tiba-tiba telpon genggamku berbunyi. Telpon dari Bari. "Assallamuallaikum.." ku angkat telpon ku.


"Waallaikumsallam, aku tidak bisa pulang hingga minggu depan, aku sangat sibuk, kalau ada waktu nanti kau ku hubungi.." telpon terputus.


Tak dapat ku sembunyikan kesedihanku di hadapan ayahku. Meski aku berusaha tetap tersenyum.
Seandainya saja, Bari punya sifat seperti ayahku. Tentu lain cerita hidupku. Bagaimana setianya ayah pada ibu. Walaupun ibu tidak bisa memberi keturunan anak laki-laki, ayah selalu setia pada ibu.


Rahimku terpaksa di-angkat, setelah melahirkan putri ku Aisyah. Kanker ovarium menyerang sehingga harus kurelakan rahim dan kehilangan kesempatan untuk hamil lagi, inipun atas persetujuan Bari.


Aku sudah bosan menjelaskan berulang-ulang masalah ini. Tapi Bari sudah punya pilihan lain. Dan aku tidak ingin berburuk sangka pada Bari. Aku harus mempercayainya bahwa dia benar-benar sibuk.


Aku masih bersama ayah di keheningan kamar berdinding putih bersih dan senyap. Kuperhatikan wajah ayah dalam-dalam. Ku akui, aku sangat kagum dengan cinta yang dimiliki ayah, ayah begitu setia pada ibu. Ah..sungguh beruntungnya ibuku.


Ayah membuka matanya perlahan, sangat sayu.


"Maya.."


"Iya ayah.."


"Senangnya bila hari ini, Aisyah dan Bari juga ada di sini. Ayah merasakan kehadiran ibu di sini."


"Ayah jangan bilang gitu, ayah pasti sembuh, semangat ya ayah."


Kata - kata yang keluar dari mulut ayah membuatku tak kuasa membendung air mataku lagi.
Aku bangkit dari duduk ku, kupeluk kaki ayahku.


"Ayah sembuh ya .... Maya dan Aisyah sayang ayah ....,sembuh ayah."


"Sampaikan salam ayah buat cucu ayah Aisyah, katakan kakek sayang Aisyah. Juga sampaikan salam ayah untuk Bari, maafkan ayah ...."


Tangisku meledak seketika, Lalu ayah diam, dan menutup matanya. Mata itu tertutup sangat rapat. Aku merasa telah kehilangan ayah. Mata itu seakan tak menampakkan akan terbuka lagi.


Kamar yang tadinya sunyi gemuruh oleh tangisanku. Suster datang di susul dokter yang memberikan pertolongan pada ayah.


Ya, aku telah kehilangan ayah hari ini. Kehilangan ayah untuk selamanya. Ayah yang aku kagumi. Ayah yang mempunyai cinta yang tulus. Ayah yang selalu mencintai ibu sampai akhir hayatnya. Kini Ayah telah tiada. Ayah telah dipanggil pemiliknya.


Tak ada yang bisa kulakukan selain menangis dan merelakan kepergian ayah untuk selamanya. Aku telah kehilangan ayah untuk selamanya dan doaku mengiringi kepergiannya untuknya menghadap pada sang Penciptanya.


Selamat jalan ayah semoga ayah bahagia di sisi Tuhan Yang Maha Esa, aamiin.

If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

5 comments:

  1. Sungguh menyedihkan, sang ayah meninggal sementara suami tercinta jauh dan sibuk dengan kegiatannya.

    ReplyDelete
  2. Sungguh menyedihkan, sang ayah meninggal sementara suami tercinta jauh dan sibuk dengan kegiatannya.

    ReplyDelete
  3. Membaca cerita Maya di atas, aku.Jadi teringat Almarhum ayahku.
    Sedih. Aku tak sempat mendengar kata katanya yg terakhir sebelum kepergiannya. Karena aku sedang di perantauan.

    Eh, kok. Mataku bisa berkaca-kaca ya?

    ReplyDelete
  4. Kehilangan orang tercinta untuk selama-lamanya adalah hal yang sangat menyedihkan bagi semua orang.

    Hidup ini memang terkadang tidak bisa memilih. Kita tidak bisa menghindar dari bagian pahit dari kehidupan.

    Seuatu ketika seseorang harus kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya. Karena itu semua adalah bagian dari kehidupan kita, Semuanya harus diterima dengan lapang dada sebagaimana ketika pertama kali menerima orang yang dicintai tersebut. Memang sudah menjadi sunnatullah bahwa sesuatu itu ada dan tiada. Berawal dari tidak ada kemudian jadi ada dan terakhir nantinya akan kembali menjadi tiada.

    Yang terpenting kita harus bisa menerimanya dengan ikhlas, dan mendoakan yang terbaik buat orang (ayah) yang telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya,

    ReplyDelete
  5. Kehilangan memang sangat menyedihkan, tapi kehilangan sesungguhnya bisa membuat diri kita bisa berpikir lebih dewasa lagi. Bahwa semua orang akan merasakan kehilangan.

    ReplyDelete

Terima kasih untuk kehadirannya di blog Maya salam hangat dan persahabatan selalu